Pernah berpikir bahwa yang anda sayangi pada nyatanya belum tentu menyayangi anda sebaliknya. Atau anda menyayanginya tanpa memberitahunya? Sepertinya hal ini adalah lumrah untuk kita semua, terutama yang tidak jujur terhadap diri sendiri. Tanpa disadari, anda sudah menjadi tamu di pernikahan orang yang kau sayangi atau bahkan tanpa sengaja kau sudah masuk dalam zona aman si dia dan dianggap "cuman teman".
Pikiranku memuncak ketika hal itu terdengar dari salah satu acara TV swasta yang sedang mengudara malam ini. Ku meneguk segelas susu coklat hangat untuk meringankan bebanku sejenak. Bukan berarti aku akan melupakan kejadian hari ini. Bukan juga untuk mengenang waktu waktu bersamanya. Aku memandang jauh kedalam masa lalu dan menerawang ke masa depan. Bukan berarti aku seorang dukun ataupun orang supranatural, tetapi mengingat bagaimana waktu berjalan lebih cepat dari rotasi bumi, aku menyadari bahwa hal tersebut merupakan satu satunya hal yang ingin kukembalikan dalam sekejap, secepat sebuah jentikan jari.
Kupandangi sejenak foto kelulusan SD, SMP dan SMA. Bahkan saat kuliah pun lulus bersama. Wanita itu selalu memandang jauh kedepan dalam setiap senyum yang simpul di wajahnya. Dia, adalah Nikita, teman masa kecil, sahabat SMA, teman terbaik, dan orang yang ku sayangi. Dia selalu berada disampingku, bahkan disaat aku ditolak oleh orang yang kusukai masaku SMA.
Hanya saja pada saat itu, aku tak melihatnya sebagai seorang yang kucintai. Padahal ia berada disisiku selama itu. 20 tahun, waktu yang lama untuk baru menyadari bahwa ia selama ini berada disisiku dimanapun aku berada, terdiam, dan disaat terburuk yang kualami.
Ya, aku adalah orang terbodoh dalam bidang ini. Bahkan saat Revan sudah memberitahuku untuk jalan dengan dia. Bukan sebagai seorang teman, tetapi sebagai seorang kekasih.
Sesal. Itu yang kurasakan sekarang. Sesal yang sangat dalam dan terasa menusuk hingga terasa di tulang rusukku yang hilang. Kiasan memang, tetapi apa yang kurasakan sekarang adalah seperti itu. Meja kerja yang berantakan terlihat seperti perasaanku saat ini, kacau. Membuatku ingin merapihkannya dan menyusunnya berbentuk simetris. Untuk menandakan bahwa perasaanku saat ini sudah pulih dan membaik.
Terselip diatas meja kerja tersebut, sebuah undangan pernikahan. Undangan itu adalah undangan pernikahan Nikita dengan pria yang ia kenal pada saat ia magang menjadi wartawan majalah remaja dan aku diundang. Ya, diundang sebagai tamu, melihatnya dalam gaun pernikahan dan bersama seseorang yang bukan aku. Dalam benakku, inilah yang aku takutkan. Takut dalam artian, aku belum siap menghadapinya. Bisa saja aku tidak datang, tapi tepat dibelakang undangan itu, ada sticky notes yang biasa ia tulis pada saat SMA. Untuk memberikan jawaban ataupun mengingatkan janji isengku padanya. Diatas sticky notes itu tertulis, "Datang ya, gus. Ingat janjimu pada saat kita wisuda di SMP - Nikita,".
Janji. Janji yang pernah kusampaikan untuknya. Janji bahwa aku akan mendukung apapun yang terbaik untuknya dan selalu berada disampingnya. Aku berjanji untuk selalu mendukung yang terbaik untuknya, tetapi selalu berada disampingnya? Tidak, aku mengingkarinya. Sekarang bukan aku yang berada disampingnya sekarang, tetapi orang lain yang bahkan aku tidak mengenalnya hingga bulan lalu, Nikita memperkenalkannya padaku saat reuni SMA.
Terpuruk, bukan berarti aku harus menanggung derita perasaan pilu ini.
Terjatuh, bukan berarti aku tidak perlu bangkit dan merangkak keluar dari lubang ini.
Terdzolimi, bukan berarti... Tunggu, aku sama sekali tidak terdzolimi dengan hal ini.
Tapi pada akhirnya, aku harus menghadapinya. Bukan sebagai orang larut dalam perasaan lara, tetapi seseorang yang memandang cinta sebagai hal yang indah. Indah dalam menyampaikan sesuatu yang tak pasti. Indah dalam membuat seseorang jatuh, berlutut dan terlihat seperti kehilangan arah. Indah dalam bentuk yang bahkan diriku tidak tahu bahwa itu cinta.
Waktu memang menjengkelkan. Tapi ia membuktikan bahwa sesal pada akhirnya adalah cara seseorang untuk berevolusi ataupun merubahnya menjadi lebih buruk. Kemudian, ku teringat akan pesan Nikita saat wisuda Universitas.
"Gus, terima kasih ya, selama ini kau selalu ada disampingku, mendukungku, tapi sayang, kau bahkan tidak menyadarinya," ucap Nikita saat itu.
Aku yang dulu mungkin tak menyadari maksud dari kalimat tersebut, dan sekarang jika ada hal yang bisa mengembalikan momen itu, akan kucubit keras diriku, dan memberanikan diri untuk menyampaikan perasaaku saat itu.
Yah, itukan dulu. Sudah saatnya juga aku menghadapi hal ini. Menganggap hal ini sebagai kenangan yang penting, sebuah evolusiku dari sebuah batu yang keras, menjadi seonggok tanah yang lembut. Bukan berarti harus melupakan segalanya, tapi harus ada yang menjadi cambuk untuk diriku. Memandang jauh kedepan untuk menggapai sesuatu yang lebih berharga, mungkin.
Perasaan itu dulu pernah kurasakan. Penyesalan memang datang terlambat. Tetapi, penyesalanku kali ini adalah suatu hal yang harus dihadapi, aku mengingatnya sebagai tanda bahwa aku pernah melewati fase tersebut. Fase dimana kau baru merasakan sebuah perubahan signifikan dari menjadi teman hingga menjadi orang yang disayangi.
Teleponku bergetar, tanda SMS masuk.
"Ingat ya, kita harus berdandan rapih untuk pernikahan Nikita dan Rio, malam ini,"
SMS itu dari Gracia. Ia adalah calon istriku.
Ah, lebih baik bergegas sekarang. Sebelum nanti banyak yang ia ocehkan di perjalanan kesana.
Jadi, apakah penyesalanmu berakhir menjadi kesedihan buatmu atau menjadi sebuah perubahan untuk masa depanmu?
Hanya saja pada saat itu, aku tak melihatnya sebagai seorang yang kucintai. Padahal ia berada disisiku selama itu. 20 tahun, waktu yang lama untuk baru menyadari bahwa ia selama ini berada disisiku dimanapun aku berada, terdiam, dan disaat terburuk yang kualami.
Ya, aku adalah orang terbodoh dalam bidang ini. Bahkan saat Revan sudah memberitahuku untuk jalan dengan dia. Bukan sebagai seorang teman, tetapi sebagai seorang kekasih.
Sesal. Itu yang kurasakan sekarang. Sesal yang sangat dalam dan terasa menusuk hingga terasa di tulang rusukku yang hilang. Kiasan memang, tetapi apa yang kurasakan sekarang adalah seperti itu. Meja kerja yang berantakan terlihat seperti perasaanku saat ini, kacau. Membuatku ingin merapihkannya dan menyusunnya berbentuk simetris. Untuk menandakan bahwa perasaanku saat ini sudah pulih dan membaik.
Terselip diatas meja kerja tersebut, sebuah undangan pernikahan. Undangan itu adalah undangan pernikahan Nikita dengan pria yang ia kenal pada saat ia magang menjadi wartawan majalah remaja dan aku diundang. Ya, diundang sebagai tamu, melihatnya dalam gaun pernikahan dan bersama seseorang yang bukan aku. Dalam benakku, inilah yang aku takutkan. Takut dalam artian, aku belum siap menghadapinya. Bisa saja aku tidak datang, tapi tepat dibelakang undangan itu, ada sticky notes yang biasa ia tulis pada saat SMA. Untuk memberikan jawaban ataupun mengingatkan janji isengku padanya. Diatas sticky notes itu tertulis, "Datang ya, gus. Ingat janjimu pada saat kita wisuda di SMP - Nikita,".
Janji. Janji yang pernah kusampaikan untuknya. Janji bahwa aku akan mendukung apapun yang terbaik untuknya dan selalu berada disampingnya. Aku berjanji untuk selalu mendukung yang terbaik untuknya, tetapi selalu berada disampingnya? Tidak, aku mengingkarinya. Sekarang bukan aku yang berada disampingnya sekarang, tetapi orang lain yang bahkan aku tidak mengenalnya hingga bulan lalu, Nikita memperkenalkannya padaku saat reuni SMA.
Terpuruk, bukan berarti aku harus menanggung derita perasaan pilu ini.
Terjatuh, bukan berarti aku tidak perlu bangkit dan merangkak keluar dari lubang ini.
Terdzolimi, bukan berarti... Tunggu, aku sama sekali tidak terdzolimi dengan hal ini.
Tapi pada akhirnya, aku harus menghadapinya. Bukan sebagai orang larut dalam perasaan lara, tetapi seseorang yang memandang cinta sebagai hal yang indah. Indah dalam menyampaikan sesuatu yang tak pasti. Indah dalam membuat seseorang jatuh, berlutut dan terlihat seperti kehilangan arah. Indah dalam bentuk yang bahkan diriku tidak tahu bahwa itu cinta.
Waktu memang menjengkelkan. Tapi ia membuktikan bahwa sesal pada akhirnya adalah cara seseorang untuk berevolusi ataupun merubahnya menjadi lebih buruk. Kemudian, ku teringat akan pesan Nikita saat wisuda Universitas.
"Gus, terima kasih ya, selama ini kau selalu ada disampingku, mendukungku, tapi sayang, kau bahkan tidak menyadarinya," ucap Nikita saat itu.
Aku yang dulu mungkin tak menyadari maksud dari kalimat tersebut, dan sekarang jika ada hal yang bisa mengembalikan momen itu, akan kucubit keras diriku, dan memberanikan diri untuk menyampaikan perasaaku saat itu.
Yah, itukan dulu. Sudah saatnya juga aku menghadapi hal ini. Menganggap hal ini sebagai kenangan yang penting, sebuah evolusiku dari sebuah batu yang keras, menjadi seonggok tanah yang lembut. Bukan berarti harus melupakan segalanya, tapi harus ada yang menjadi cambuk untuk diriku. Memandang jauh kedepan untuk menggapai sesuatu yang lebih berharga, mungkin.
Perasaan itu dulu pernah kurasakan. Penyesalan memang datang terlambat. Tetapi, penyesalanku kali ini adalah suatu hal yang harus dihadapi, aku mengingatnya sebagai tanda bahwa aku pernah melewati fase tersebut. Fase dimana kau baru merasakan sebuah perubahan signifikan dari menjadi teman hingga menjadi orang yang disayangi.
Teleponku bergetar, tanda SMS masuk.
"Ingat ya, kita harus berdandan rapih untuk pernikahan Nikita dan Rio, malam ini,"
SMS itu dari Gracia. Ia adalah calon istriku.
Ah, lebih baik bergegas sekarang. Sebelum nanti banyak yang ia ocehkan di perjalanan kesana.
Jadi, apakah penyesalanmu berakhir menjadi kesedihan buatmu atau menjadi sebuah perubahan untuk masa depanmu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar