Sabtu, 21 Juni 2014

Cinta Abadiku Hanya Untukmu


Sore ini, aku tetap mendentingkan gitarku untuk para pasangan yang sedang memadu kasih mereka di taman ini. Aku memainkan beberapa lagu Evergreen Love Song serta lagu cinta buatanku. Sebenarnya, aku sedikit iri dengan mereka. Karena aku tak dapat bersamanya, pada hari valentine ini. 


Dari tempatku berdiri aku dapat melihat semua orang. Lihat disana, pasangan yang mencinta dalam diam. Mereka saling memegang tangan dan menyandarkan pundak satu sama lain. Yah, mereka hanya saling melempar senyum dan cekikikan bersama ketika tanpa sadar kedua mata saling berpapasan. Hal ini membuatku langsung memainkan beberapa lagu yang cocok untuk mereka. Ketika 2 lagu selesai, mereka menghampiriku dan melemparkan uang ke kotak gitarku serta melempar senyum kepadaku. Cukup hangat, menurutku. Mereka kembali memadu kasih kembali di bangku taman itu dan merangkul satu sama lain.

Sepertinya, aku bukan sedikit iri lagi sepertinya, sangat iri, pasangan ini selain menarik untuk dilihat, mereka ramah kepadaku. 


"Seandainya saat ini kita sedang bersama, salju putihku," gumamku dalam riuh ramai taman ini.


Lain lagi dengan pasangan yang ada dibawah pepohonan rindang itu, mereka terlihat asik menceritakan pengalaman mereka, tertawa lepas tentang cerita perjalanan mereka, karena aku melihat carrier mereka yang besar yang menandakan mereka memiliki jiwa liar dan juga petualang. Yah, mereka telah menambah keirianku karena aku tak dapat mengajaknya jalan jalan bersamaku.

Aku menyanyikan lagu buatanku yang cukup menceritakan suasana itu. Lagu itu tentang sebuah semangat cinta yang tak mudah padam meski dalam kesusahan. Yah, aku tahu itu terlalu klise tapi memang lagu itu yang cocok dengan mereka berdua. Bahkan menurutku, terlalu cocok.

Mereka tertawa ketika mendengar lagu yang kunyanyikan. Mereka kembali menceritakan pengalaman mereka atau mungkin memberikan komentar mengenai laguku yang cocok dengan mereka. Setidaknya itu perkiraanku.

Dua laguku selesai, mereka sadar dan menghampiriku juga memberikan uang sama seperti pasangan tadi dan sebuah kotak berisi coklat dari tempat mereka datangi sebelumnya.

“Hey, jangan nyanyi lagu cerita cinta doang, kamu juga harus punya cerita cinta sendiri,” kata pasangan itu bersamaan. Kebetulan? Setidaknya, menurutku mereka sama klop juga cocok satu sama lain.

Aku hanya mengangguk terima kasih kepada mereka. Lalu, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Aku melihat mereka bersemangat untuk melanjutkan perjalanan cinta mereka. Kemanapun kaki mereka melangkah. Istilah "dunia hanya milik berdua" adalah ungkapan yang cocok untuk mereka, bahkan lebih terlihat dunia yang mengikuti perjalanan mereka. 


"Salju putihku, bukankah kita juga diikuti oleh dunia dan disaksikan oleh Yang Maha Kuasa, bukan?" gumamku dalam hati.


Kemudian, dibangku taman tepat dibawah lampu jalan, seorang gadis yang gelisah dan terus memegang telepon genggamnya dan bolak-balik mencoba menelepon seseorang. Menurutku, dia seorang pasangan Long Distance Relationship atau LDR. Mungkin mereka berjanjian untuk bertemu di tempat ini, setidaknya itu asumsiku. Segera, aku kembali mendentingkan gitar untuk memainkan lagu yang bertemakan LDR. Yah, mungkin lagu ini dapat menenangkan hatinya yang gelisah. Aku memainkan kurang lebih 3 lagu yang bertema sama. 


"LDR ini seperti mengingatkanku pada dirimu, wahai salju putihku," diriku kembali bergumam tentang hal yang sama.


Lalu, aku melihat seorang pria berlari lari dan masih membawa koper dan ranselnya. Asumsiku adalah ia terburu buru dari bandara untuk menemui gadis itu. Gadis itu memarahi pria itu tanpa alasan lalu tanpa disadari ia mengeluarkan air mata. Air mata itu terlihat seperti mengkhawatirkannya, seperti bunga merindukan matahari. Pria itu terlihat panik, bingung apa yang harus ia lakukan. Lalu, aku melihat yang ia lakukan, mungkin hal itu juga akan terjadi pada diriku jika dirinya berada disini, yaitu memeluknya untuk menenangkan dirinya.

Pria itu lalu mencium kening gadis itu dan menenangkannya juga mengeluarkan bunga dari ranselnya. Buket bunga daffodil disertai dengan bunga matahari dan mistletoe yang kusut karena mungkin bunga itu tertimpa barang barang yang ada didalamnya. Gadis itu kemudian menyeka air matanya dan memberikan senyum hangat kepada pria itu dan memeluknya erat. Terlihat sepertinya mereka sudah akur.

Aku langsung memainkan lagu kesukaanku yang mungkin jika dia berada disampingku sekarang ini yaitu, “I Love You, Anyway” oleh Mocca. Mungkin, lagu ini cocok dengan suasana hati mereka.

Setelah aku selesai menyanyikan lagu itu, gadis itu menarik pasangannya untuk menghampiriku dan ia melemparkan sejumlah uang.

“Makasih, ya, karena sudah menenangkan diriku yang tadi gelisah karena takut karena si bodoh ini telat,” katanya sambil memukul pasangannya. Pria itu hanya bisa tersenyum pahit. Kemudian, mereka pergi dengan merangkul satu sama lain. 


"Seandainya kau kembali, mungkin kau akan melakukan hal yang sama, memukul kepalaku layaknya anak kecil yang melakukan hal yang salah, ya kan, salju putihku?" gumamku ketika melihat pasangan tersebut.


Ketika kusadari, ternyata taman ini sudah sepi. Riuh ramai anak kecil yang bermain dengan orang tua mereka juga pasangan dibangku taman sudah pergi bersamaan dengan pasangan petualang. Aku kemudian merapihkan gitarku dan mengumpulkan uang yang kudapat.

“Sepertinya aku perlu bertemu dengannya,” pikirku.

Matahari sudah menjadi jingga, tanda saatnya aku beranjak dari taman yang penuh kisah ini. Lalu pergi ke toko bunga untuk membeli bunga yang cocok untuknya, bunga mawar merah serta bunga rosemary yang ia sukai.

“Wah, pasti untuk dia, ya,” kata penjaga toko sambil menunjukan kelingkingnya yang bermaksud bunga ini untuk salju putihku.

“I..iya, ini untuk hari jadi kami yang ke 10 bulan serta untuk hari Valentine” kataku sambil membayar bunga yang kubeli.
“Wah, so sweet sekali kalian, semoga langgeng ya,” kata penjaga toko mengambil uangku,

”Terima kasih telah membeli disini,” dan kemudian diberikannya ikatan bunga dari mawar dan rosemary ini.


“Sama sama,” jawabku.

Aku berjalan menuju tempatnya. Tempatnya adalah tempat yang paling abadi yang pernah diketahui. Penuh dengan bunga bunga yang ia sukai.

“Hai, salju putihku, apa kabar? Sepertinya kau masih dapat melihatku dari langit sana. Aku ingin mengucapkan selamat hari jadi kita, ya. Udah yang ke-10 bulan,yah, gak berasa, dan juga sekaligus hari Valentine, aku berharap kamu masih berada disini bersamaku,” kataku pada nisannya kemudian terhenti karena tak kusadari air mata mulai meleleh dipipiku. 

“Aku ingin cerita banyak ke kamu, salju putihku. Bagaimana aku melihat para pasangan itu memiliki masalah masalah mereka sendiri. Padahal, hari ini hari kasih sayang, tetapi mereka perlahan menemukan jalan untuk menyelesaikannya, mungkin karena mereka mendengar laguku” gurauanku dengan air mata yang mengalir,


”Terima kasih untukmu karena telah membiarkanku mencintaimu selama 10 bulan terakhir, ini ada bunga untukmu,  untuk hari jadi kita dan untuk hari Valentine. Aku sangat bersyukur karena tuhan telah mengenalkanmu padaku. Aku mencintaimu, salju putihku,”.


Aku menangis di depan nisannya. Mengingat hari hari yang telah kulewati bersamanya. Mungkin bukan takdirku untuk bersamanya selamanya. Tapi, mungkin takdirku hanya dapat mencintainya selamanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar